Artikel Rohani Kristen
GARAM DUNIA
Matius
5:13
Garam bukan hal
baru lagi dalam kehidupan ini. Garam telah dikenal sejak ribuan tahun lalu
dalam peradaban manusia. Namun pada saat Yesus berkata kepada para
pengikut-Nya, “Kamu adalah garam dunia.” Apakah kita sebagai pengikut-Nya
sungguh memahami pengertian garam dunia yang dimaksudkan Yesus? Hal ini mungkin
agak sulit dipahami oleh banyak orang karena Yesus menggunakan metafora. Namun
demikian untuk...
memahami metafora tersebut kita sebaiknya mengetahui terlebih
dahulu tentang garam yang sesungguhnya.
Garam diperoleh
dari air laut. Orang Fenisia konon memperoleh banyak garam dengan cara
menguapkan air Laut Tengah di tambak-tambak. Orang Ibrani mempunyai persediaan
garam yang melimpah di pantai Laut Mati (Zef 2:9). Sekarang ini, garam
digunakan orang sebagai bumbu dan bahan pengawet. Sebagai bumbu garam memberi
rasa dan aroma. Garam menjadi bahan pengawet dengan membersihkan dan memperlambat
kerusakan makanan. Garam mununjukkan kemampuannya dalam hal sebagai bumbu dan
pengawet. Garam juga membuktikan kekuatan dan ketangguhannya untuk
menghancurkan logam yang sangat keras sekali pun seperti baja. Dan pada masa
Imamat, garam dicampurkan pada persembahan sajian mereka (Imamat 2:13).
“Kamu adalah garam
dunia.” Merupakan kalimat pertama sabda Yesus dalam Matius 5:13. Yesus
berbicara pertama sekali kepada para murid dan pengikutnya, dan sekarang ini setiap
orang yang membaca firman-Nya dan menerima-Nya sebagai Juru Selamat berarti dia
adalah sesuai sabda tersebut yakni garam dunia. Perlu kita ketahui bahwa Yesus
tidak berkata agar kita “menjadi garam dunia”, tetapi Ia mengatakan bahwa “kita
adalah garam dunia”. Setiap orang yang menerima Yesus sebagai Juru Selamatnya,
secara otomatis dia adalah “garam dunia”, kecuali dia berubah rasa menjadi
tawar.
Yang menjadi
pertanyaan sekarang adalah apa ciri kita sebagai garam dunia? Apa yang harus
kita lakukan sebagai garam dunia? Jawabannya adalah sesuai dengan fungsi dan
manfaat dari pada garam sebagai bumbu dan sebagai pengawet, pembersih, dan
sebagai obat. Garam yang hanya tersimpan dalam lemari berarti bukanlah garam
yang bermanfaat. Mungkin itu sama saja dengan garam yang terbuang. Garam harus
bercampur dengan makanan untuk menciptakan rasa dan aroma. Garam harus meresap
ke dalam daging atau ikan untuk mengawetkannya.
Garam dunia yang
Tuhan Yesus maksudkan adalah bahwa kita harus mampu mengajarkan relevansi-Nya,
menunjukkan relevansi-Nya, dan menghidupkan relevansi-Nya dalam setiap gerak
langkah hidup kita. Menjadi garam dunia tidaklah sekedar mengumandangkan
khotbah lewat mimbar semata, atau berbaur dengan sesama seiman. Memang gereja
adalah tempat orang Kristen berkumpul dan beribadah. Gereja bukanlah tempat
mencari kesenangan pribadi, memuaskan keinginan daging, mencari kedudukan
dengan paksa walaupun sesungguhnya dia tidak tepat sesuai kompetensi dan
karunia Tuhan. Dia melakukan pelayanan kedagingan karena gila hormat. Tetapi
lebih dari pada itu, gereja harus mampu mempersiapkan dan memperlengkapi
jemaatnya menjadi garam seperti yang Yesus kehendaki. Bahkan Yesus menasehati
kita agar kita selalu memiliki garam dalam diri kita (Markus 9:50). Selaku
garam dunia, kita harus mampu melakukan terobosan menembus kultur, ras, agama,
dan bangsa menyusup dan berbaur dengan orang-orang yang mau digarami,
diawetkan, alias diselamatkan. Anak Tuhan yang melakukan terobosan adalah
mereka yang telah diperlengkapi dengan kompetensi, talenta, dan karunia dengan
pertolongan Allah, dan bimbingan Roh Kudus untuk memenangkan jiwa bagi Tuhan.
Setiap orang
yang mengaku dirinya anak Tuhan berarti siap menjadi garam bagi dunia. Dia
memiliki manfaat atau berguna dan berpengaruh bagi lingkungan dimana dia
berada. Jika tidak, berarti itulah yang dikhawatirkan oleh Yesus sehingga Dia
mengatakan dalam kalimat selanjutnya dalam (Matius 5:13), “Jika garam itu
menjadi tawar, dengan apakah dia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain
dibuang dan diinjak orang.” Sungguh mengerikan, bukan? Dari nats tersebut dapat
dipahami bahwa setiap kita orang Kristen haruslah bisa membuktikan bahwa dia
adalah garam dunia, yakni melakukan fungsi garam melakukan terobosan untuk
menembus berbagai lapisan kultur, ras, agama, dan bangsa untuk bisa
menyelamatkan mereka bagi Tuhan, atau akan menjadi terbuang dan diinjak orang
karena telah menjadi tawar alias tidak berfungsi atau tidak bermanfaat, atau
tidak memiliki pengaruh memenangkan jiwa bagi Tuhan. (Ev. H.Y. Manurung)