googlee10025ebf65670c5.html Pohon Tarbantin Kebenaran - Heldin Manurung: Garam Dunia

VISI:

Menjadi Pohon Tarbantin Kebenaran (Yesaya 61:3)

MISI:

Mempersiapkan generasi yang siap menghadapi zaman akhir, dan siap sedia menyambut kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang kedua kalinya.

Menyampaikan kabar baik kepada orang sengsara, merawat orang yang remuk hati, memberitakan pembebasan kepada orang tawanan, orang yang terkurung kelepasan dari penjara, dan menghibur orang berkabung.

Puji Tuhan. Saudara bersama kami sekarang.

Tidak kebetulan saudara bersama kami saat ini. Tidak ada yang terjadi di luar pengetahuan Tuhan. Kami percaya Tuhan menghendaki saudara mengalami perubahan terhadap hidup dan kehidupan saudara. Tuhan ingin saudara mengenal Dia dengan benar, dan segala usaha dan upaya yang saudara lakukan selama ini tidak menjadi sia-sia karena pemahaman yang keliru dari maksud Firman Tuhan yang sesungguhnya. Tuhan tidak menghendaki saudara kecewa karena saudara merasa bahwa saudara telah berjalan pada kebenaran selama ini pada hal tidak demikian.

Mohon maaf bahwa kami tidak bermaksud mengkhotbai saudara. Kami tidak bermaksud bahwa kami lebih baik atau lebih pintar dari saudara. Kami hanya ingin berbagi dengan saudara tentang kebenaran yang kami peroleh dari Tuhan. Kami ingin memenuhi kerinduan saudara untuk memperoleh keutuhan hidup bersama Tuhan Yesus Kristus. Kami rindu untuk hidup bersama-sama dengan saudara sesuai dengan kehendak Yesus Kristus seperti yang Ia janjikan dalam Firman-Nya. Mari bertumbuh bersama di dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.

Laman

Rabu, 17 Februari 2016

Garam Dunia

                                                                               Artikel Rohani Kristen 

GARAM DUNIA

Matius 5:13

Garam bukan hal baru lagi dalam kehidupan ini. Garam telah dikenal sejak ribuan tahun lalu dalam peradaban manusia. Namun pada saat Yesus berkata kepada para pengikut-Nya, “Kamu adalah garam dunia.” Apakah kita sebagai pengikut-Nya sungguh memahami pengertian garam dunia yang dimaksudkan Yesus? Hal ini mungkin agak sulit dipahami oleh banyak orang karena Yesus menggunakan metafora. Namun demikian untuk...
memahami metafora tersebut kita sebaiknya mengetahui terlebih dahulu tentang garam yang sesungguhnya.
Garam diperoleh dari air laut. Orang Fenisia konon memperoleh banyak garam dengan cara menguapkan air Laut Tengah di tambak-tambak. Orang Ibrani mempunyai persediaan garam yang melimpah di pantai Laut Mati (Zef 2:9). Sekarang ini, garam digunakan orang sebagai bumbu dan bahan pengawet. Sebagai bumbu garam memberi rasa dan aroma. Garam menjadi bahan pengawet dengan membersihkan dan memperlambat kerusakan makanan. Garam mununjukkan kemampuannya dalam hal sebagai bumbu dan pengawet. Garam juga membuktikan kekuatan dan ketangguhannya untuk menghancurkan logam yang sangat keras sekali pun seperti baja. Dan pada masa Imamat, garam dicampurkan pada persembahan sajian mereka (Imamat 2:13).
“Kamu adalah garam dunia.” Merupakan kalimat pertama sabda Yesus dalam Matius 5:13. Yesus berbicara pertama sekali kepada para murid dan pengikutnya, dan sekarang ini setiap orang yang membaca firman-Nya dan menerima-Nya sebagai Juru Selamat berarti dia adalah sesuai sabda tersebut yakni garam dunia. Perlu kita ketahui bahwa Yesus tidak berkata agar kita “menjadi garam dunia”, tetapi Ia mengatakan bahwa “kita adalah garam dunia”. Setiap orang yang menerima Yesus sebagai Juru Selamatnya, secara otomatis dia adalah “garam dunia”, kecuali dia berubah rasa menjadi tawar.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apa ciri kita sebagai garam dunia? Apa yang harus kita lakukan sebagai garam dunia? Jawabannya adalah sesuai dengan fungsi dan manfaat dari pada garam sebagai bumbu dan sebagai pengawet, pembersih, dan sebagai obat. Garam yang hanya tersimpan dalam lemari berarti bukanlah garam yang bermanfaat. Mungkin itu sama saja dengan garam yang terbuang. Garam harus bercampur dengan makanan untuk menciptakan rasa dan aroma. Garam harus meresap ke dalam daging atau ikan untuk mengawetkannya.
Garam dunia yang Tuhan Yesus maksudkan adalah bahwa kita harus mampu mengajarkan relevansi-Nya, menunjukkan relevansi-Nya, dan menghidupkan relevansi-Nya dalam setiap gerak langkah hidup kita. Menjadi garam dunia tidaklah sekedar mengumandangkan khotbah lewat mimbar semata, atau berbaur dengan sesama seiman. Memang gereja adalah tempat orang Kristen berkumpul dan beribadah. Gereja bukanlah tempat mencari kesenangan pribadi, memuaskan keinginan daging, mencari kedudukan dengan paksa walaupun sesungguhnya dia tidak tepat sesuai kompetensi dan karunia Tuhan. Dia melakukan pelayanan kedagingan karena gila hormat. Tetapi lebih dari pada itu, gereja harus mampu mempersiapkan dan memperlengkapi jemaatnya menjadi garam seperti yang Yesus kehendaki. Bahkan Yesus menasehati kita agar kita selalu memiliki garam dalam diri kita (Markus 9:50). Selaku garam dunia, kita harus mampu melakukan terobosan menembus kultur, ras, agama, dan bangsa menyusup dan berbaur dengan orang-orang yang mau digarami, diawetkan, alias diselamatkan. Anak Tuhan yang melakukan terobosan adalah mereka yang telah diperlengkapi dengan kompetensi, talenta, dan karunia dengan pertolongan Allah, dan bimbingan Roh Kudus untuk memenangkan jiwa bagi Tuhan.
Setiap orang yang mengaku dirinya anak Tuhan berarti siap menjadi garam bagi dunia. Dia memiliki manfaat atau berguna dan berpengaruh bagi lingkungan dimana dia berada. Jika tidak, berarti itulah yang dikhawatirkan oleh Yesus sehingga Dia mengatakan dalam kalimat selanjutnya dalam (Matius 5:13), “Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah dia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” Sungguh mengerikan, bukan? Dari nats tersebut dapat dipahami bahwa setiap kita orang Kristen haruslah bisa membuktikan bahwa dia adalah garam dunia, yakni melakukan fungsi garam melakukan terobosan untuk menembus berbagai lapisan kultur, ras, agama, dan bangsa untuk bisa menyelamatkan mereka bagi Tuhan, atau akan menjadi terbuang dan diinjak orang karena telah menjadi tawar alias tidak berfungsi atau tidak bermanfaat, atau tidak memiliki pengaruh memenangkan jiwa bagi Tuhan. (Ev. H.Y. Manurung)